RSS

Mengapa Harus Mengorganisir Rakyat

03 Jun

“Datanglah kepada rakyat, hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, bangunlah dari yang mereka punya, tetapi pendamping yang baik adalah ketika pekerjaan selesai dan tugas dirampungkan, rakyat berkata, Kami sendirilah yang mengerjakannya.” (Lao Tse)”

A. Pendahuluan

Negara terbentuk atas dasar kontrak sosial yang dibuat oleh massa rakyat untuk kehidupan yang lebih tersistematis dan memperoleh kesejahteraan bersama. Dan sudah seharusnya negara memperhatikan nasib rakyatnya dan menjadikan rakyat sebagai suyek dalam segala kebijakan yang diambil oleh penguasa dalam suatu negara, dikarenakan merekalah yang terkena langsung dampak dari kebijakan tersebut dan bukan untuk sebagian golongan atau untuk golongan tertentu. Kebijakan haruslah bersandar kepada kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat adalah kedaulatan tertinggi dan kedaulatan rakyat adalah kedaulatan Tuhan artinya kedaulatan rakyat adalah kedaulatan sejati, sehingga semua kebijakan negara yang dibuat oleh penguasa haruslah bersandar pada kedualatan rakyat.

Tetapi selama ini yang terjadi di Indonesia baik pada massa orde baru maupun orde reformasi sampai kepada kepemimpinan rejim SBY-JK kedaulatan rakyat yang selalu didengung-dengungkan adalah kedaulatan semu yang artinya rakyat tidak pernah memperoleh kedaulatan sepenuhnya. Mereka hanyalah sebagai alat untuk mobilisasi ketika Pemilu dan tidak pernah di dengar suaranya. Kedaulatan selama ini hanyalah milik kalangan borjuasi dan kelas menengah.

Rakyat selalu diperlakukan tidak adil dan penguasa selalu berbuat Kedzaliman, terutama di zaman Orde Baru. Tidak ada satu kesempatanpun bagi rakyat untuk menikmati demokratisasi. Sehingga memang rakyat perlu disadarkan dan diorganisir. Dan sudah saatnya kedaulatan dikembalikan sepenuhnya kepada rakyat.

B. Sejarah Pengorganisiran

Pengorganisiran massa rakjat muncul pertama kali diakhir 70-an, yaitu untuk menyikapi kondisi ekonomi, sosial, politik dan budaya yang “adem ayem” artinya rakyat tidak memiliki kesadaran untuk melakukan pengkritisan terhadap situasi ekonomi, sosial, politik dan budaya pada saat itu, mereka mencoba memberontak dengan “kemapanan sistem” yang ada, mereka berusaha mencari jawaban memadai dengan mengabdikan diri kepada korban kebijakan ”pembangunan” terutama komunitas miskin di pedesaan. Mereka terinspirasi dari gerakan Gandhi, Marx, Friere dll. Dari pemberontakjan-pemberontakan tersebut memunculkan metodologi-metodologi pengorganisiran yang antara lain Participatory Action Research,Teologi Pembebasan, Pendidikan Pembebasan.

Apalagi pasca gerakan 30 September 1966 terjadi hal itu bertambah parah, ada satu trauma yang luar biasa di tengah masyarakat. Sementara itu pemerintah Orde Baru melakukan depolitisasi politik melalui penggabungan (fusi) partai-partai politik yang masih eksis menjadi dua kelompok kompromis. Kebijakan ditingkatan massa adalah kebijakan ‘massa mengambang’ (Floating mass policy) memisahkan massa dengan gerakan politik.

Selain itu pemerintahan yang ada juga selalu mendengung-dengungkan konsep ‘developmentalisme’ yang dianggap konsep yang paling matang dan konsep paling mapan yang di dalamnya terdapat konsep modernitas yaitu konsep kemajuan peradaban masyarakat modern dari kacamata peradaban dunia barat, sehingga kebudayaan timur yang melekat di Indonesia harus mulai ditinggal karena tidak sesuai dengan konsep modernitas tersebut. Padahal konsep developmentalisme di dalamnya mengandung konsep eksploitasi sumber daya yang tidak berorientasi pada kemakmuran rakyat dan tidak memperhatikan ekosistem yang ada. Konsep modernitas merupakan terjemahan dari konsep industrialisasi yang mengesampingkan kepentingan massa rakyat.

C. Tiga Pilar Capaian Pengorganisiran Rakyat

1. Sadar Ketertindasan

Semenjak orde baru berkuasa rakyat sudah tidak mempunyai ruang gerak, rakyat dibungkam dalam kekritisannya, apalagi sejak peristiwa malari, tidak tampak nuansa perlawanan rakyat lagi. Rakyat benar-benar “dininabobokan” dengan ilusi-ilusi yang menggiurkan, mahasiswa yang merupakan bagian dari rakyat diajak untuk berdansa-dansi dan jauh dari kehidupan politik dengan diberlakukannya NKK-BKK, organisasi-organisasi Mahasiswa yang dulunya menjadi organisasi intra-universiter harus “terusir” dari kampusnya dikarenakan kebijakan NKK-BKK tersebut dan harus berideologi Pancasila sebagai asas tunggal dari organisasi mereka. Padahal kalau dilihat dari filosofis Pancasila sendiri memahami keterbedaan. Bagi mereka yang melawan maka organisasinya akan di “bredel”.

Sementara petani tidak lagi dapat menguasai alat produksinya yaitu tanah, tanah-tanah mereka dirampas dengan dalih untuk pembangunan, padahal dalih semacam itu tidaklah benar, yang benar adalah negara lebih mementingkan konsep developmentalisme yang didukung investor asing dengan melakukan eksploitasi sumber daya di Indonesia baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Kalau mereka melawan maka mereka akan dibunuh oleh rejim Soeharto pada saat itu, peristiwa Lampung, Peristiwa Kedung Ombo, Peristiwa Jenggawah, Peristiwa Nipah dan peristiwa-peristiwa yang lainnya adalah bukti nyata ketertindasan masyarakat petani bahwa mereka sudah tidak mampu lagi berkuasa akan tanah mereka sendiri dan negara sudah mengkhianati amanah pasal 33 UUD 1945. Buruh-buruh juga tidak dapat menentukan nasib mereka sendiri, upah mereka sangat tidak layak, buruh perempuan juga tidak ada jaminan untuk melaksanakan hak-haknya, kebebasan mereka untuk berserikat juga dibatasi, cerminan kematian marsinah sang pahlawan buruh adalah salah satu contoh dari ketertindasan yang dialami oleh buruh. Kaum nelayan tradisional juga demikian, mereka sudah tidak bisa lagi menangkap ikan di laut karena ikan-ikan habis ditangkapi oleh Kapal-kapal Trawl yang cukup canggih milik korporasi-korporasi borjuasi yang diijinkan oleh negara dan itu sangat merusak ekosistem laut.

Sehingga berdasarkan pernyataan dan kasus-kasus diatas perlu adanya penyadaran terhadap massa rakjat untuk bangkit dari ketertindasan, dengan asumsi bahwa negara harusnya berdaulat atas nama rakjat bukan atas nama penguasa atau segelintir orang borjuis maupun imperialisme asing. Konsep dasar dari penyadaran akan keterindasan adalah masyarakat sebagai subyek pembangunan dan kebijakan bukan obyek artinya gagasan kebijakan ataupun pembangunan harus lahir dari masyarakat secara bottom up bukan lagi topdown.

2. Sadar Melawan

Setelah kesadaran kritis akan ketertindasan mereka terbangun maka yang harus dicapai adalah kesadaran massa rakyat akan melawan. Mereka harus bangkit untuk melawan dari ketertindasan. Mereka harus segera merebut kedaulatannya dari pemerintah yang lalim dan dzalim serta pemerintahan yang hanya berpihak kepada kaum pemodal dan imperialisme asing.

Kesadaran melawan ini harus dibarengi dengan gerakan-gerakan pembebasan melalui pengorganisasian yang terorganisir. Seorang Organizer harus banyak meluangkan waktunya melakukan pengorganisiran di tingakatan basis massa rakyat.

Karena kesadaran dari ketertindasan akan menjadi kesadaran semu apabila tidak diberikan pendidikan kesadaran akan melawan. Benar bahwa mereka sudah sadar dari ketertindasan, tetapi kemudian mereka tidak tahu bagaimana mereka harus melawan, yang pada akhirnya hal tersebut akan bermuara pada kepasrahan dan sikap skeptis pada keadaan. Kalaupun mereka sudah tumbuh kesadaran akan melawan hanyalah kesadaran perindividu sehingga gerakan mereka tidaklah massive dan dapat dipatahkan.

Disinilah seorang organizer haruslah bekerja ekstra keras dan dengan kesabaran mereka mencoba meyakinkan massa rakyat bahwa kesadaran akan melawan itu adalah kesadaran kolektif dan harus dipunyai oleh setiap individu serta dengan memberikan pemahaman bahwa “Diam tertunduk untuk ditindas atau bangkit mentap untuk melawan sebab mundur adalah pengkhianatan” ini adalah salah satu jargon yang efektif agar mereka memiliki kesadaran untuk melawan.

3. Sadar Organisasi

Setelah dicapai kesadaran kolektif maka capaian terakhir dalam pengorganisiran rakyat adalah sadar organisasi. Artinya disini setelah massa rakjat mengalami kesadaran untuk melawan maka perlu dipahamkan bahwa ketika kesadaran kolektif untuk melawan muncul akan cukup efektif apabila ada suatu wadah atau organisasi sebagai alat perjuangannya, jadi bukan melawan tanpa wadah karena kalau melawan tanpa wadah ataupun melawan secara sendiri-sendiri maka akan mudah dipatahkan dan hanya bisa dikatakan gerak gerik bukan gerakan atau gerakan tanpa bentuk.

Untuk itu seorang organizer haruslah segera bertindak dengan memberikan pembelajaran kepada massa rakyat untuk segera berorganisasi. Organisasi inipun berfungsi sebagai alat untuk mendidik penguasa bahwa rakyat mampu melakukan perlawanan secara kolektif melalui organisasi. Organisasi yang berbasis masyarakat atau Community Based Organization (CBO) haruslah mempunyai program kerja yang jelas dan sistematis termasuk persoalan kaderisasi. Untuk itu seorang organizer haruslah memikirkan tentang sistematika kaderisasi untuk kelangsungan kelembagaan masyarakat yang dibuat tersebut dan juga harus mampu menciptakan seorang community organizer dari lingkungan community based organization tersebut. Dengan adanya pola kaderisasi yang tersisitematis maka akan ada keberlanjutan (suistainability) terhadap organisasi rakyat tersebut.

Disamping itu organisasi bentukan masyarakat yang difasilitasi oleh Community organizer harus mampu untuk melakukan advokasi sendiri tanpa tergantung dari community organizer, jadi pendidikan yang nantinya diberikan haruslah bernuansa pembebasan bukan malah menimbulkan patronase. Organisasi tersebut selain harus dihilangkan rasa ketergantungan pada seorang organizer maka organisasi tersebut haruslah dimaknai sebagai kerja kolektif (Collective Collegia) dan tidak tergantung pada satu orang pemimpin, karena kalau tergantung pada satu orang community organizer ataupun seorang pemimpin maka ketika community organizer-nya sudah tidak ada lagi mendampingi ataupun ketika pemimpin organisasi tersebut sudah tidak bisa menjalankan organisasi tersebut dengan baik yang terjadi adalah organisasi tersebut mengalami stagnasi. Harus dipahami prinsip kerja collective colegia adalah mengedepankan prinsip partisipatif secara menyeluruh.

D. Tahapan-tahapan Pengorganisiran

1. Investigasi

a. Pemetaan Wilayah

Hal ini perlu dilakukan untuk mencari data awal tentang geopolitik wilayah tersebut beserta stratifikasi masyarakatnya, biasanya hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk cara-cara yang dilakukan oleh seorang intelejen.

Cara yang dilakukan oleh seorang intelejen adalah cara yang cukup efektif untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang wilayah tersebut. Ada tahapan-tahapan dalam pemetaan wilayah tersebut dengan cara intelejen yaitu:

Mengetahui batas-batas wilayah

Hal ini berfungsi agar kita lebih mengenal wilayah tersebut dan pengaruh akulturasi dan asimilasi kebudayaan yang ada di wilayah tersebut dan perilaku-perilaku sosial yang mempengaruhi dari pertautan-pertautan wilayah-wilayah yang berdekatan dengan wilayah yang direncanakan untuk diorganisir.

Mengetahui Adat istiadat dan budaya masyarakat setempat

Seorang organiser ketika bekerja mengorganisir masyarakat haruslah paham dan mengerti tentang adat istiadat dan budaya masyarakat yang akan diorganisir, ini tujuannya adalah ketika melakukan pekerjaan perorganisiran seorang organiser tahu batasan mana yang bisa dikerjakan dan mana yang tidak berdasarkan adat istiadat dan budaya yang ada, agar nantinya tidak ada kontradiksi antara oraginzer dan masyarakat gara-gara adat isitiadat dan budaya. Adat istiadat dan budaya setempat menjadi rel dalam pengorganisiran, dan salah satu strategi pengorganisiran. Masyarakat yang akan diorganisir itu selalu punya kearifan lokal bentuk dari kearifan lokal adalah norma, adat istiadat dan budaya.

Pemetaan tentang kebiasaan masyarakat setempat dan pekerjaan rata-rata dari masyarakat tersebut.

Pemetaan tentang kebiasaan masyarakat dititikberatkan pada bagaimana anggota-anggota masyarakat tersebut bersosialisasi dan melakukan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan kehidupannya. Kita harus bisa melihat pada jam-jam atau hari-hari tertentu masyarakat berkumpul untuk bersosialisasi. Kalau pemetaan pekerjaan berfungsi untuk melihat tingkat pendapatan dan kemakmuran masyarakat yang akan diorganisir. Pemetaan tentang kebiasaan masyarakat juga berfungsi untuk mengetahui tingkat solidaritas yang ada di masyarakat tersebut.

Pemetaan terhadap individu-individu yang berpengaruh dan klan-klan yang ada guna mengetahui tentang konflik-konflik sosial yang ada dan yang mungkin timbul.

Adanya tokoh yang berpengaruh terkadang dapat menghambat bagi kerja-kerja pengorganisiran, dikarenakan pada masyarakat yang statis keberadaan tokoh yang berpengaruh biasanya adalah tokoh yang pro pada kebijakan pemerintah, tetapi ada juga seorang tokoh lokal progressuf serta mampu memobilisasi rakyat untuk melakukan aktivitas-aktivitas kolektif dan kritis pada pemerintah. Tokoh-tokoh yang berpikiran progressif inilah yang harus didekati dan dijadikan mitra oleh seorang organiser.

Pemetaan Klan adalah berfungsi untuk melihat klan-klan yang dominan di masyarakat setempat, dan pengaruh klan tersebut terhadap aktivitas sosial masyarakat setempat. Disamping itu pemetaan klan ini berguna untuk melihat tingkat penyelesaian konflik yang ada, karena keterbedaan-keterbedaan klan inilah terkadang menyebabkan konflik sosial. Seorang organizer posisinya harus mampu di tengah-tengah klan-klan yang ada dan mampu menjadi mediator apabila terdapat perselisihan diantara klan tersebut. Seorang organiser tidak boleh terjebak dalam satu klan. Biasanya pembedaan-pembedaan klan itu dipahami dengan satu tanda. Misalnya pada masyarakat keturunan Madura di Jember atau disebut masyarakat “pedalungan” pembedaan antar klan ditandai dengan adanya mushollah tiap klan punya 1 mushollah jadi satu dusun saja bisa ada puluhan mushollah, seperti pada masyarakat desa lengkong, kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember.

b. Pencarian Kontak Person

Setelah Tahap pemetaan wilayah dilakukan pencarian kontak person sebagai tahapan selanjutnya. Proses pencarian kontak person ini bisa dilakukan bersamaan dengan pemetaan adat isitiadat dan budaya masyarakat. Ada dua taktik yang harus diperhatikan dalam pencarian kontak person atau proses hubungan pertemanan yaitu:

Kunjungan Rutin

Tinggal bersama

1) Membangun kontak person

Dalam membangun kontak person hal pertama yang dilakukan adalah perkenalan atau mencari kenalan. Proses ini dilakukan oleh para pengorganisir baik yang menggunakan taktik kunjungan intensif maupun tinggal bersama. Perbedaannya adalah dalam mengutarakan maksud kedatangan atau keberadaannya di komunitas tersebut. Ada yang bersiasat ini ada kaitannya dengan penelitian yang dilakukan oleh seorang organiser, sedang yang lainnya memakai siasat untuk mencari pekerjaan. Jadi pada intinya seorang organiser harus punya alasan yang kuat ketika datang pada suatu komunitas dan mampu mengutarakan maksudnya secara jujur dan jangan sampai ada kecurigaan. Untuk taktik tinggal bersama (live in) ada 2 (dua) metode metode sewa sebuah kamar atau integratif dan menjadi bagian keluarga dari kontak person tersebut. Cara tinggal bersama adalah cara paling efektif agar kita bisa berintegratif dengan sebuah komunitas dan kecurigaan-kecurigaan bisa ditepis. Dengan kita tinggal bersama kita mampu membuat perencanaan-perencanaan yang sistematis.

2) Memperluas/memperat pertemanan

Perluasan dan mempererat pertemanan merupakan langkah selanjutnya setelah membangun kontak person. Pengorganisir yang melakukan taktik kunjungan intensif akan banyak hal yang terlewatkan karena mereka hanya berkunjung berdasarkan jadwal-jadwal yang ada. Banyak informasi yang akhirnya sampai pada organiser tidak rigid dan simpang siur. Berbeda halnya dengan organizer yang tinggal bersama masyarakat, mereka akan dapat menggali persoalan-persoalan yang ada di masyarakat melalui berbagai cara misalnya saja pada waktu memancing, ikut ke sawah, lewat aktifitas ini organizer akan lebih akrab dengan kontak person awal ataupun dengan kontak person yang lainnya. Karena dengan mengikuti aktifitas-aktifitas yang ada seorang oragnizer akan dapat lebih dipercaya sehingga masyarkat dengan sendirinya akan cerita tentang persoalan-persoalan mereka, termasuk persoalan sensitif.

3) Pengumpulan informasi awal.

Penggalian informasi awal dimulai sejak pembangunan atau pencarian kontak dan perluasan pertemanan. Informasi-informasi awal yang sudah didapatkan haruslah dicatat tetapi jangan langsung dicatat didepan mereka kita rekam dulu melalui otak kita dan pada malam harinya barulah kita buat catatan-catatan dan pelaporan-pelaporan harian dari data yang telah terkumpul berikut analisanya, yang kemudian didiskusikan lagi bersama komunitas apabila dirasa data yang kita butuhkan masihlah kurang cukup atau ragu-ragu.

c. Pemetaan Masalah

Pemetaan masalah ini cenderung pada analisa sosial dari data-data yang sudah didapatkan tadi untuk mengambil pilihan tindakan atau perencanaan aktifitas seorang organiser.

2. Penguatan Komunitas dan Pembuatan Organisasi Rakyat

a. Penguatan Komunitas dan penyebaran masalah

Tugas organizer dalam kerja penguatan komunitas disini adalah dengan membentuk sebuah forum komunitas dengan dibantu kontak-kontak person yang ada untuk memetakan masalah dan mencoba menggugah kesadaran kritis dan memberikan pendidikan penyadaran dari ketertindasan. Sebelum pembuatan forum-forum tersebut, organiser telah melakukan disuksi-diskusi informal dengan masyarakat untuk penyebaran masalah yang ada ditingkatan mereka, dan kemudian dalam diskusi tersebut harus di dorong untuk membuat forum yang mengundang semua lapisan masyarakt untuk membicarakan-membicarakan persoalan-persoalan yang ada, sekaligus merumuskan rekomendasi-rekomendasi dan perencanaan-perencanaan. Melalui penguatan komunitas inilah

b. Pembuatan Organisasi Rakyat

Kemudian setelah beberapa forum tersebut telah dilakukan maka untuk lebih menguatkan jalinan komunitas tersebut dibuatlah oraganisasi rakyat yang bertujuan sebagai alat untuk memperjuangkan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam masyarakat tersebut. Pembuatan organisasi rakyat haruslah partisipatif dari mulai pemunculan nama maupun susunan pengurus serta program-program kerja yang ada haruslah bersumber dari mereka. Disamping itu organisasi masyarakat tersebut haruslah mengedepankan nilai-nilai demokratis, keseteraan, akuntabilitas dan solidaritas. Tugas organiser disini hanyalah mengawal dan mengarahkan pembentukan serta memberikan penguatan capacity building.

3. Pendidikan

Tahapan berikutnya setelah terbentuknya organisasi rakyat, maka masuk pada tahap pendidikan. Tahap pendidikan organisasi di bagi tiga yaitu:

a. Diskusi

Diskusi ini adalah sebagai alat untuk mempertajam wacana dan melatih massa untuk dapat melakukan pengkritisan terhadap persoalan-persoalan sosial yang ada. Diskusi ini bisa dilakukan bergilir di rumah-rumah penduduk, dan pemateri dan moderatornyapun berganti-ganti yang bertujuan agar semua masyarakat memiliki kesamaan dalam merasakan menjadi seorang moderator maupun pemimpin diskusi. A round table discussion atau dikusi keliling ini harus merupakan kegiatan rutin. Diskusi keliling ini adalah salah satu bentuk atau metode untuk mempertahankan organisasi massa yang sudah terbentuk. Tugas Organizer disini hanyalah mengantarkan di diskusi awal saja, karena proses selanjutnya harus merupakan inisiatif masyarakat. Diskusi-diskusi rutin bisa juga mendatangkan pemateri dari luar komunitas baik dari kalangan NGO maupun organisasi massa lainnya atau bahkan kalangan akademisi.

Selain disukusi rutin ada diskusi temporer yang ini adalah untuk membahas isu-isu khusus dan penyelesaian-penyelesaian konflik yang muncul seiring berjalannya organisasi massa.

b. Kaderisasi

Pendidikan kader atau kaderisasi perlu dilakukan karena ini merupakan alat pembelajaran bagi pemuda-pemuda dan juga keharusan untuk regenerasi organisasi. Pendidikan Kader berisikan tentang pendidikan politik dan pendidikan kepemimpinan serta manajemen organisasi. Pendidikan kader haruslah bertahap tidak boleh sekali karena ini berfungsi untuk menciptakan kader-kader yang militan, bisa dalam bentuk Pendidikan Kader Dasar, Pendidikan Kader Tingkat Lanjutan, maupun Pendidikan Kader Tingkat Mahir atau trainer.

4. Advokasi

Setelah organisasi massa terbentuk barulah organizer mendorong massa untuk melakukan advokasi. Seorang organizer harus berprinsip bukan menjadi hero dalam hal advokasi tetapi harus berprinsip hanya melakukan pendampingan dan melakukan advokasi bersama dengan massa dan organizer memberikan pembekalan tentang proses advokasi. Upaya advokasi harus diarahkan pada hal-hal:

1. Pada tingkat kebijakan; upaya advokasi yang diperlukan adalah dengan melakukan sosialisasi visi yang kemudian dipaparkan melalui pendekatan-pendekatan strategis.

2. Pada kerangka strategis; dengan menjalin jaringan kerja yang bersifat pluralistik pada tingkatan multi-level (menjalin linkage dan membentuk networking). Dengan demikian semua kemungkinan dapat diatasi secara tepat dan cepat. Kemunglkinan keberhasilan dalam berbagai upaya advokasi terbukti lewat suatu jaringan. Simpul-simpul kekuatan dalam masyarakat lebih mudah tergalang dan sangat efektif.

3. Pada kerangka taktis; dengan melakukan kampanye pendapat umum sebagai bagian dari upaya penggalang-an kekuatan massa (community organisation). Intensifikasi informasi dan tekanan publik adalah alat ampuh untuk mendorong pihak-pihak lawan untuk tidak saja mendengarkan tapi juga melakukan perubahan.

Dapat disimpulkan, metode-metode dalam melakukan advokasi dengan jalan:

a. menyebar luaskan informasi dan menerbitkan tulisan- tulisan,

b. menggalang dukungan yang luas,

c. mempengaruhi yang ber-kuasa.

Advokasi ada dua yaitu advokasi kasus dan advokasi kebijakan.

a. Kasus

Advokasi kasus didasarkan pada kasus-kasus yang dialami oleh massa rakyat terutama pembelaan di depan hukum atau yang biasa disebut advokasi litigasi.

b. Kebijakan

Sementara advokasi kebijakan adalah bersama-sama dengan massa rakyat mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat. Dalam tahapan ini seorang organiser bersama-sama massa rakyat telah siap membuat draf peraturan yang akan didesakkan kalau memang itu diperlukan.

5. Aksi

a. Inisiatif Kegiatan

Inisiatif kegiatan harus muncul dari basis bukan dari seorang organiser. Harus dihindari bahwa organiser tahu segala-galanya dan mampu dalam segala hal, selalu ditekankan bahwa inisiatif haruslah lahir dari massa rakyat, karena merekalah yang mengalami langsung dampak dari sebuah kebijakan. Organiser harus menempatkan diri sebagai pendamping dengan tugas hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan dan bukan malah menetukan pilihan tindakan bersama atau berinisiatif terhadap suatu kegiatan ataupun aksi. Organiser hanya mengarhkan bahwa Aksi haruslah didasarkan pada hasil analisa-analisa dan rekomendasi-rekomendasi yang muncul dari diskusi-diskusi yang ada di tingkatan basis. Kewajiban dari seorang organiser adalah mendorong basis untuk memikirkan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki basis dalam menjalankan aksi tersebut. Hal ini bisa dilihat dari pemetaan secara bersama-sama tentang kelemahan dan kekuatan basis. Selain itu seoran organiser juga berkewajiban untuk mengajak basis berfikir tentang kesempatan ataupun kendala ketika aksi tersebut dijalankan.

b. Kesepakatan Aksi bersama

Setelah itu tahapannya adalah kesepakatan aksi bersama yang didasarkan dari hasil usulan-usulan yang disertai pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan bukan karena emosi sesaat, karena aksi yang akan dilakukan berkaitan dengan tindakan-tindakan organisasi ke depannya.

c. Latihan Aksi (role play)

Bermain peran adalah merupakan bagian dari penyiapan basis massa ketika akan melakukan aksi, hal ini bertujuan agar mereka tidak canggung dan dapat memikirkan resiko yang ditimbulkan akibat aksi yang dilakukan. Organiser dapat terlibat langsung dalam bermain peran ini.

d. Implementasi Kegiatan

Implementasi kegiatan memiliki peran yang sangat penting dalam melatih dan mendidik basis menjadi massife dan militan. Untuk itu implementasi kegiatan adalah awal dari perubahan yang diinginkan oleh basis. Implementasi kegiatan adalah sebuah proses dari perjuangan komunitas. Implementasi kegiatan akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan organisasi komunitas tersebut.

Untuk itu ada dua faktor yang sangat penting yang menentukan tingkat keberhasilan dari aksi tersebut, yaitu:

Pembagian tugas dan peran dalam kelompok

Aksi-aksi yang dilakukan haruslah melibatkan banyak orang, semua orang yang terlibat haruslah memiliki kontribusi terhadap aksi tersebut. Seorang organiser harus mendorong individu-individu dalam basis tersebut untuk mengambil perannya masing-masing. Penentuan peran yang diambil berdasarkan pada tabulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam aksi. Sehingga kemungkinan-kemungkinan tersebut menimbulkan kebutuhan-kebutuhan dan aktivitas-aktivitas yang diperlukan dalam aksi tersebut.

Tabulasi kebutuhan-kebutuhan dan aktivitas-aktivitas inilah yang melibatkan seluruh individu-individu dalam basis, karena untuk memenuhi aktivitas-aktivitas dan kebutuhan-kebutuhan haruslah dilakukan secara sistematis dan jelas dalam pembagian tanggung jawabnya.

Ketika mereka semua terlibat maka tidak ada lagi massa mengambang (floating mass), sehingga antisipasi adanya provokasi dan agitasi yang tidak jelas dari pihak luar dapat diminimalisir. Sehingga keberhasilan dan kegagalan aksi dapat dirasakan dan merupakan tanggung jawab bersama.

Tanggung jawab yang diambil oleh pengorganisir tersebut.

Peran organisir dalam hal ini adalah selalu memberikan motivasi dan dukungan moral terhadap aksi yang akan dilakukan oleh massa rakyat serta memberikan saran-saran apabila diperlukan.

e. Refleksi-aksi

Refleksi dari aksi sebenarnya merupakan bentuk dari evaluasi tetapi kalau refleksi lebih ditekankan terhadap keprihatinan-keprihatinan yang berlangsung secara lebih mendalam dan membutuhkan suasana lebih tenang. Refleksi berguna untuk melihat nilai-nilai positif yang sedang diupayakan dibangun dalam organisasi. Refleksi aksi tersebut berisikan tentang pengorbanan, pembangunan masyarakat, peran pimpinan, kekuasaan, harkat kemerdekaan dan demokrasi.

Proses refleksi dilakukan setelah melakukan aksi dengan difasilitasi oleh organiser. Organiser harus mengajak basis untuk merenungkan dan memikirkan aksi-aksi yang telah dijalankan. Aksi yang telah dijalankan haruslah dianalisa kembali, mana yang baik mana yang buruk, mana yang berhasil dan gagal.

6. Pembuatan jaringan dan Perluasan Gerakan

Agar perjuangan rakyat tersebut maka tuntutan-tuntutan organisasi yang telah ada tersebut harus selalu dikampanyekan kepada organisasi-organisasi lain yang semisi dan sevisi serta memiliki persamaan sektoral agar organisasi lain tersebut timbul rasa empati dan bersolidaritas, ketika mereka sudah mulai berempati dengan perjuangan organisasi rakyat yang kita bentuk secara otomatis mereka juga akan ikut memperjuangkan dan menjadi sekutu bagi gerakan kita dan kedepannya diharapkan muncul program bersama. Ini adalah bentuk pembuatan jaringan secara strategis. Semetara pembuatan jaringan antar organ dari sektor lain juga harus dilakukan tujuannya adalah sekedar bersolidaritas, agar isu yang kita bawa bisa dicover dalam aksi mereka walaupun berbeda sektor.

Perluasan gerakan juga perlu dilakukan agar organisasi kita bertambah kuat, dengan menciptakan Community organiser-community organiser lokal maka harapannya akan muncul organisasi-organisasi rakyat sejenis yang masih dalam cakupan organisasi kita dan kemudian membentuk jaringan atau front persatuan dengan nama organisasi yang sama. Misalnya saja Jaringan petani independen, awalnya kita hanya membentuk jaringan petani independen tersebut di satu tempat tetapi kemudian karena keberhasilan organ yang kita bentuk dalam melakukan advokasi dan aksi maka ada keinginan di lain tempat meminta kepada kita atau CO-CO lokal yang kita bentuk untuk membantu mereka dalam proses pengorganisiran, atau bisa saja tidak menungga mereka meminta kepada kita untuk membentuk organisasi massa tersebut tetapi atas inisiatif kita sendiri atau CO-CO lokal kita untuk segera membentuk dilain tempat.

E. Penutup

Organisasi yang kuat adalah organisasi yang memiliki kader-kader yang handal dan militan serta kritis pada keadaan sosial yang ada di massa rakyat. Organisasi yang bisa bertahan lama adalah organisasi yang mampu menjawab persoalan-persoalan jaman dengan suatu inovatif-inovatif gerakan dan organiser yang kreatif. Credo Pugno Cum Deo (Tuhan ditengah orang-orang yang berjuang)

Referrensi:

1. Pengalaman pribadi

2. Catatan Pertama Pengalaman Belajar; Praktek Pengorganisiran masyarakat di Simpul Belajar, Yayasan Puter, Bogor, 2001

3. Untuk Apa Pengorganisiran Masyarakat (Community Organizing), Catatan Refleksi Fasilitator jaringan PERDIKAN-YPRI, http://www.insist.or.id

 
1 Comment

Posted by on June 3, 2008 in Social Movement

 

One response to “Mengapa Harus Mengorganisir Rakyat

  1. risti

    July 14, 2008 at 4:51 pm

    wah, blognya keren..aq bisa dapet ilmu tambahan nih… *_* tempat tongkrongan baru nih

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: