RSS

TENTANG AKU

BERJUANG DARI SEMANGAT YANG TAK PERNAH TERSISIHKAN (The Untold Story about Me)

Manusia diciptakan dengan kesempurnaan, yang membuat mereka cacat adalah manusianya sendiri. Semua manusia itu terlahir berbeda, yang membuat keterbedaan adalah pada Ras, Suku, Bangsa, Agama serta bentuk fisik….

Masa Kanak-kanak

Si Anak itu di masa kecilnya bercita-cita menjadi seorang Jendral Angkatan Laut, si Anak itupun tidak merasa terlahir cacat, dia hanya berujar dan terus berujar dalam hatinya bahwa manusia diciptakan dengan kesempurnaan, yang membuat mereka cacat adalah manusianya sendiri. Semua manusia itu terlahir berbeda, yang membuat keterbedaan adalah pada Ras, Suku, Bangsa, Agama serta bentuk fisik.

Anak itu terlahir dari anak pasangan Achmad Zain dan Mutmainah sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Lahir setelah adzan Shubuh berkumandang tepatnya tanggal 1 Juli 1978. Kalau anak lainnya lahir disertai dengan tawa kebahagiaan, tetapi anak ini lahir disertai dengan tangisan oleh kerabatnya, karena anak ini terlahir berbeda dengan anggota keluarga lainnya.

Anak ini dinyatakan memiliki keterbatasan fisik semenjak di kandungan, Ibunya sudah memiliki 6 anak, dan sudah tidak mau lagi untuk punya anak, sehingga sang ibupun mencoba ber-KB dan ternyata sang ibu “kebobolan”, mengandunglah beliau anak yang ke-7 dengan kondisi kandungannya yang lemah, tetapi ibu tersebut ingin mempertahankan kandungannya. Di usia kandungan menginjak 5 bulan sang Ibu terjatuh di pematang sawah hal ini menimbulkan kondisi kandungan semakin memburuk yang akhirnya setelah diperiksakan ke dokter janin dalam kandungan tersebut dinyatakan mengalami keterbatasan fisik. Akhirnya benar si Anak ini lahir dengan kondisi memiliki keterbatasan fisik yaitu dengan kedua pasang kakinya yang dempet, tangan kanannya yang bengkok, dan leher yang harus miring ke kanan karena terhalang oleh selembar daging yang menarik leher anak itu kearah kanan, jadilah kalau ingin menoleh kearah kanan kalau orang lain hanya menggerakkan lehernya anak ini harus menggunakan tubuhnya karena lehernya tidak sepenuhnya mampu untuk menoleh ke kanan. Jika anak yang lain setelah beberapa hari dilahirkan sudah bisa dibawa pulang ke rumah, lain halnya dengan anak ini, dia harus di observasi di rumah sakit dan juga akan dilakukan pemisahan sepasang kakinya yang dempet. Di usia 7 (tujuh) bulan anak ini menjalani operasi pemisahan kakinya yang dempet, operasi dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Operasi itu berhasil, kaki kiri dan kanan bisa terpisahkan dan dibuat lurus tidak bengkok, tapi sayang ketika kembali ke lumajang bekas operasi yg belum mengering di copot oleh suster RSUD Lumajang karena sang anak itu menangis karena luka akibat operasi belum mengering, akhirnya kaki kirinya kembali bengkok. Dia mulai bisa berjalan di usianya 18 bulan. Ayahnya yang seorang guru dan juga seorang ahli acupressure tiap hari melakukan therapy pada kaki kirinya agar dapat digunakan untuk berjalan, akhirnya dia bisa berjalan walau terseok-seok, kaki kirinya berjalan tidak menggunakan telapak kaki justru miring ke kiri dan membuat kaki kirinya kapalen dan pincang.

Kedua orang tuanya mendidik anak ini hidup dalam kemandirian, mereka erdua tidak pernah membeda-bedakan perlakuan terhadap anak ini, anak ini dibiarkan tumbuh dan berkembang layaknya anak disekitarnya. Dan rupanya perlakuan orang tuanya terhadap anak ini berdampak pada psikologi si anak untuk tidak minder, bahkan si anak tidak tersadar kalau dirinya memiliki keterbatasan fisik dengan saudara-saudara maupun teman-temannya. Pernah beberapa kali sebelum dia bersekolah di Taman Kanak-kanak diajak kakak sulungnya untuk mengisi acara pembacaan puisi dan lagu balada, masih melekat di dalam ingatannya di usia 4 tahun dengan terbata-bata karena dia masih belajar membaca, membacakan puisi dengan cara deklamasi.

Di usia 5 tahun dia disekolahkan di Raudlatul Athfal Muslimat NU IV Lumajang disebelah barat  rumahnya sekitar 200m, alasan orang tuanya karena dekat dengan rumah, tidak banyak memori yang dia ingat ketika masa TKnya, yang dia ingat dia mulai belajar menggambar dan memfungsikan tangan kirinya untuk menulis, karena tangan kanannya tidak kuat untuk memegang pensil.

Setelah 2 tahun bersekolah di Raudlatul Athfal Muslimat NU IV, dia masuk ke sekolah favorit pada saat itu yaitu SDN Ditotrunan 1 Lumajang atau biasa dikenal dengan nama SD LOWO, disebut SD LOWO karena di sekolah tersebut terdapat sarang Kelelawar dan ada ribuan kelelawar yang tinggal disitu dari jaman Belanda, sehingga tiap hari anak-anak SD Lowo menghirup bau dari kotoran kelelawar bahkan baunya sampai menempel di baju, tapi lama kelamaan anak-anak yang bersekolah disitu sudah tahan dengan bau kotoran kelelawar. Di sekolah dia tidak pernah merasa minder, karena teman-temannya senang bergaul dengan dia, dan teman-temannya memperlakukannya seperti teman yang lain, di sekolah tersebut hanya dia yang memiliki keterbatasan fisik, tapi sewaktu SD dia masih belum menyadari tentang keterbatasan fisiknya, sehingga jenis permainan apapun dia ikuti, dari main betengan, gobak sodor sampai sepak bola. Di SD inilah kemudian teman-temannya memanggil dengan sebutan cak Wawa, tidak hanya teman seangkatan yang memanggil cak wawa, kakak kelas dan adik kelas bahkan beberapa guru memanggil dia cak wawa. Di SD lowo muridnya banyak, setiap pendaftaran siswa baru pasti membuka dua kelas A & B. pada saat kelas 1-5 dia berada di kelas A, kelas ini kelas yang disegani terutama dalam hal sepak bola, karena rata-rata teman-teman dari angkatannya yang di kelas A adalah pemain SSB, dulu SSB di Lumajang yang terkenal SSB Merpati Putih dengan pelatihnya Pak Pi’i. Teman-temannya yang berlatih di SSB Merpati Putih seperti Aris Wahyudi, Singgih Wicaksono, mereka adalah pesepak bola tangguh di kelasnya. Dia pernah ikutan sebentar di SSB Merpati Putih, dia menyukai AC Milan dari jamannya trio Belanda (Ruud Gulit, Van Basten dan Van Rijkaard) yaitu pada tahun 1990, dia mengidolakan Van Basten. Untuk tim lokal Indonesia dia menyukai Arema Malang, pada saat itu dia kepincut dengan permainannya Singgih Pitono yang geit dan Micky Tata yang garang yang membawa AREMA juara Galatama. Disamping suka Sepak Bola, rupanya anak ini sudah senang berorganisasi semenjak keccil, sejak kelas 1 SD dia aktif ikut berlatih Pramuka. Selain Sepak bola olah raga yang dia geluti Tenis meja uga menjadi olah raga kedua, masih ingat pada sat kelas 6 SD dia belajar tenis meja, temannya Ardiyan Kurnia Putra adalah instruktur yang baik dalam Tenis meja, disamping itu kegiatan bertenis mejanya juga merupakan olah raga yang digemari dari anak-anak hingga orang dewasa di kampungnya, banyak jago-jago Tenis meja di Kabupaten Lumajang pada saat itu lahir dari kampungnya, tenis meja di kampungnya menjadi barometer kegiatan tenis meja di Lumajang.

Di saat SD inilah ayahnya selalu mendorong dia untuk rajin membaca, tiap hari disodorkan sebuah buku baik fiksi maupun non fiksi, ayahnya berpesan kelak ketika dia dewasa harus bisa menjadi penulis. Kisah-kisah inspiratif yang dia masih ingat sampai saat ini adalah dari sebuah Buku cerita berjudul Marsudi dari Desa Waleri. Buku yang bercerita tentang perjuangan anak desa meraih impiannya. Ayahnya juga sering mengajak dia untuk ketemu anak-anak Panti Asuhan, kebetulan ayahnya adalah pengelola Panti Asuhan Muhammadiyah Lumajang. Disamping itu ayahnya seringkali mengajak dia keliling-keliling desa. Ayah bagi dia adalah sumber inspirasi dikehidupan sosialnya. Ayahnya yang mengaari dia berdiskusi, dia sering nimbrung jika ada tamu dari ayahnya berdiskusi dengan ayahnya.

Ayahnya juga pernah menawari dia untuk memakai brace (alat bantu untuk meluruskan kaki kirinya) tetapi dia tolak dengan alasan, jika memakai bracemaka dia menjadi tidak bebas untuk berjalan dan berlari. Pada saat kelas 6 SD di usianya ke-12 ayahnya juga mengingatkan agr dia melakukan operasi leher seperti yang pernah dokter omongkan ke orang tuanya pasca operasi pemisahan kaki, dia awalnya mau, tetapi karena melihat ibunya menagis karena tidak tega dia mau dioperasi, akhirnya dia minta ke ayahnya untuk membatalkan niatan operasi lehernya.

Di masa SD banyak kenangan yang tidak terlupakan yang terkadang membuat dia tertawa mengingatnya, pernah dia disuruh menggigit penghapus papan tulis dengan merangkak karena lupa mengerjakan PR Matematika, pernah sekali karena dia tidak belajar hasil ulangan matematikanya bernilai 50 dan itu harus dibawa keliling ke kelas-kelas dibawahnya, dia pada saat itu kelas 6, sehingga dia harus keliling ke kelas 5 A-B sampai kelas 1 A-B, Guru Matematikanya adalah Bapak Djoko Soesilo (Alm.) yang sangat killer.  Pernah juga pada saat kelas 5 dia dan beberapa temannya yaitu Mustafid, Aris, Agung Triwidodo, Agus Haryono (Alm.) lupa mengerjakan PR IPA akhirnya di usir keluar oleh Bu Isa guru IPAnya dan malah mereka semua malah diajak dia ke rumahnya, karena kebetulan saat itu jam terakhir, dan ketika dia dan teman-temannya ke rumahnya dengan membawa tas, dia ditanya oleh ibunya kok pulang agak cepat, dia bilang kalau guru-gurunya sedang rapat, keesokan harinya dia dan teman-temannya dipanggil oleh bu Isa yang kebetulan juga wali kelasnya, dia dan teman-temannya dengan tegas menjawab kalau pulang ke rumah. Akhirnya sejak peristiwa itu guru-guru tidak ada yg menyuruh siswa keluar kelas ketika tidak mengerjakan PR tetapi harus ke perpustakaan.

Masa Remaja

Dia berhasil menyelesaikan masa studinya di SD Ditotrunan 1 Lumajang dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang lumayan baik. Kemudian dia mendaftar di SMP Negeri 1 Lumajang dengan ditemani ayahnya, rupanya 75% teman-teman seangkatan di SD Ditotrunan 1 banyak yang diterima di SMP Negeri 1 Lumajang, sehingga penyesuaian disekolah tidaklah lama, SMP Negeri 1 Lumajang adalah sekolah favorit dan berisikan anak-anak pintar, dan tentu saja lulusan SD Ditotrunan 1 cukup mewarnai di SMP Negeri 1 Lumajang. Namun kebersamaan dengan ayahnya hanyalah sampai dia  berusia 13 tahun, ayah yang dicintai dan sekaligus sumber inspirasi telah pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, akibat dari penyakit jantung koroner yang beliau idap selama 2 tahun. Tepatnya pada saat dia menginjak kelas 1 SMP. Ayahnya meninggal tanggal 11 Oktober 1991.

Pada saat SMP dia mulai terlibat aktif di kepengurusan OSIS SMP N 1 Lumajang, menjadi anggota seksi Kerohanian Islam pada saat semester II di kelas 1, menjadi Koordinator seksi Kerohanian Islam pada saat Semester II di Kelas 2, menjadi pengurus Pramuka SMP N 1 Lumajang, dan juga menjadi pengurus PMR. Di saat SMP inilah yang membuat dia tersadar bahwa dia berbeda dengan teman-temannya, berbeda dalam bentuk fisik, tetapi itu tak menyurutkan langkahnya dalam meniti dunia tetapi justru hal ini memacu dia untuk berbuat yang terbaik buat dirinya dan lingkungannya, dia ingin membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh teman-temannya yang “normal” dia pasti mampu. Pada saat akhir kelas 3, dia bersama beberapa temannya yaitu Agus Hariyono (Alm.), Ibrahim Aji ikut dalam Pencak Silat Tapak Suci. Dia sangat bangga dengan Tapak Suci, dan bangga sebagai putra dari salah satu pendiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah Lumajang. Dengan bangganya dia memakai seragam sang Ayah yang Nampak kebesaran, seragam seorang pendekar yang selama ini menjadi inspirasi dia. Kegiatan bertapak suci ria dia lakukan sampai di bangku kuliah dengan tingkat terakhir kuning melati 3 (tiga). Dia berusaha menciptakan jurus-jurus sendiri yang tidak merubah jurus inti tapak suci sering dia tampilkan diberbagai kesempatan pertemuan-pertemuan tapak suci. Ruang-ruang aktifitas baik itu ekstra kurikuler maupun organisasi intra kurikuler pasti selalu ada dia, dari ruang perpustakaan, mushollah dan ruang OSIS dia ada disana. Ekstra Kurikuler dari Ekstrakurikuler belajar Qiro’ah, Pramuka bahkan Ekstrakurikuler Seni Rupa dia ikuti semua. Baginya pengembangan bakat dan pembuktian kemampuan kepada banyak orang lebih berarti daripada harus mengeluh dan berputus asa memikirkan dirinya yang memiliki keterbatasan fisik.

Berbicara masalah percintaan, dia mengalami masa puber pertama kali di saat SMP, tidak ada yang istimewa dalam masa percintaannya, alias lebih banyak kekecewaan, jika ingat akan hal itu dia hanya bisa tertawa. Karena bagi dia sesuatu yang lucu, dia selalu jatuh cinta dengan primadona sekolah, dan selalu tak tahu malu atau kalau menurut orang jawa Rai gedeg atau muka tembok, sudah tahu bakalan ditolak tetap maju mengungkapkan rasa cintanya.

Setelah lulus SMP dia mendaftar di SMA Negeri 2 Lumajang, sekali lagi seperti masa SMP wajahnya menghiasi setiap ruang organisasi Intra dan semua ekstra kurikuler yang ada di SMA Negeri 2 Lumajang yang pada saat itu namanya menjadi SMU Negeri 2 Lumajang, salah satunya adalah . Di saat SMA ini dia mulai mengenal dunia harokah Islamiyah, awalnya dia belajar tentang dunia harokah melalui Forum Studi Islam Intensif, juga sempat terlibat dalam halaqoh-halaqoh yang diadakan oleh golongan Tarbiyah yang tidak lain adalah kelompok Ikhwanul Muslimin, sampai akhirnya pada saat kelas 3 dia diajak untuk mengikuti Kelompok SALAFY sampai dia masuk kuliah.

Pada saat SMA inipun Tapak suci tetap dijalani, tetapi dia juga punya kegiatan baru di kelas 1 yaitu mengikuti Kelompok Penempuh Rimba Pendaki Gunung “Argawana”, pertama kali diklat dia mendaki di Gunung Lamongan, ketertarikan dia akan pelestarian dan kecintaannya pada alam yang membuat dia tertarik masuk Argawana. Di SMA dia masuk kelas IPS, sebenarnya nilainya bisa masuk ke IPA apalagi dengan kurikulum baru kurikulum 94, penjurusan di kurikulum 94 dilakukan pada saat kelas 3, sistem yang dianutpun bukan semesteran tetapi memakai sistem catur wulan layaknya di SD, tetapi dia sadar dengan nilai pas-pasan dia tidak akan bisa meraih nilai bagus ketika EBTANAS nanti. Ebtanas telah tiba dan dia lulus dengan nilai yang memuaskan, EBTANAS itu pertama kali diujicobakan soal isian tidak hanya multiple choice seperti biasanya.

Masa Kuliah dan Dewasa

             Kemudian dia mencoba ikut UMPTN di malang dan numpang di kontrakan Mas Rully di Tlogo Mas Gg. IX, dia ambil pilihan pertama Psikologi Unir, Pilihan II di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Pada saat pengumuman di Koran Nama Hari Kurniawan ada dua satu di Kedokteran Unair, satu di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Masuk dan diterima di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya adalah sebenarnya bukan cita-cita dia, tetapi mneruskan cita-cita sang ayah, ayahnya dulu pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya sebagai angkatan Pertama tetapi tidak berhasil menyelesaikan karena keburu menikah dan punya anak.

Selama 4 tahun dia tinggal di Asrama Kopma Unibraw, di lingkungan multikultural inilah yang membuat dia belajar pluralisme, sekitar 400an orang dari berbagai daerah. Di Asrama Kopma dia ditunjuk untuk menjadi pengurus, jabatan terakhirnya adalah Sekretaris Umum Asrama Kopma. Di Lembaga otonom Koperasi Mahasiswa dia juga terlibat aktif.

Di awal kuliahnya inilah dia mencoba untuk berdiskusi dengan orang-orang disekitar kampusnya untuk berbicara tentang hak-hak difabel, itupun berawal ketika dia melihat ada kakak tingkatnya anak FH Unibraw angkatan 95 yang memakai kruk harus naik turun tangga dari lantai satu ke lantai tiga ketika kuliah, dia ingin ada persamaan hak di kampus bagi mahasisw difabel, dia ingin universitas brawijaya aksesibel baik fisik maupun non-fisik. Pernah terbesit dalam benaknya alangkah indahnya kalau di Universitas Brawijaya ada pusat studi disabilitas, atau minimal di PUSHAM FH ada divisi khusus yang membahas tentang hak-hak difabel, tapi gagasan itu tidak pernah ditanggapi walaupun sekarang di Universitas Brawijaya akhirnya ada Pusat Studi Dan Layanan Disabilitas yang di launching bulan Mei 2012 ini. Isu-isu disabilitas pada saat tahun 1997 memang belum masih terasa gaungnya walaupun Undang-undang No. 14 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat sudah di sahkan. Bahkan pemahaman teman-temannya pada saat itu masih bersifat charity.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997, hampir saja kuliahnya terputus diakibatkan hampir tidakah ada biaya, dikarenakan masih ada kedua kakaknya yang kuliah. Tetapi berkat beasiswa yang dia peroleh dan juga usahanya untuk mencari tambahan biaya kuliah semisal menjadi makelar penumpang mikrolet dengan teman kuliahnya Agus Yuwono dan Ahmad Forhan di perhentian jembatan Soekarno Hatta.

Di bangku kuliah ini dia aktif di UKM Tapak Suci, dan semua lembaga otonom yang ada d fakultas hokum, dari Forum Studi Agama, FKPH (Forum Kajian dan Penelitian Hukum), LESC (Law English Study Club), bersama Choirul Anam dan Dwi Indro Tito, Ngesti dan Nanik Yasiro mendirikan teater “Kertas” FH Unibraw, dan juga sempat aktif di Majalah Mahasiswa Manifest.

Dia juga sempat aktif di Forum studi Ekonomi Politik di tahun 1998, dari sini dia mulai memperdalam tentang sosialisme, dari sini pulahlah dia mulai belajar pengorganisiran massa rakjat, termasuk pengorganisiran buruh dan  petani. Di tahun 1999 dia memutuskan untuk keluar dari Salafy dan total melakukan pengorganisiran, hal ini kemudian disambut oleh teman-temannya di Solidaritas Pemuda Jember mengajaknya untuk bergabung dan melakukan pengorganisiran di buruh Perkebunan yang ada di Jember.

Disamping itu dia juga terlibat aktif dalam Kepengurusan Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya di divisi Peningkatan Sumber Daya Manusia. Selain itu dia juga aktif di kepengurusan Ikatan Senat Mahasiswa Hukum seluruh  Indonesia Korwil VII Jawa Timur sebagai asisten korwil bidang I Pendanaan, kesekretariatan dan Keanggotaan untuk periode tahun 2000-2002. Sebagai Askowil bidang Pendanaan, Kesekretariatan dan Keanggotaan dia terus berkeliling daerah-daerah di Jawa Timur untuk memperkuat Korda-korda di tingkatan Kabupaten.

Pada tahun 2002 dia berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, dengan judul skripsi Aspek Yuridis Implementasi Letter of Intent (LoI) antara Indonesia dengan IMF, ketertarikan dia mengambil judul ini dikarenakan formulasi krisis yang dibuat IMF untuk Indonesia berbau Neoliberal dan neokolonialisme yang nyata-nyata dalam formulasi Letter of Intent tersebut Negara harus meliberalisasi Sumber-sumber kekayaan Alam termasuk di dalamnya persoalan listrik dan Sumber Daya Air serta penjualan asset-aset Negara yang seharusnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Ketika tahun  2000 deklarasi Parapat sebagai tonggak sejarah pendirian Pergerakan Sosialis dideklarasikan oleh beberapa orang aktifis, dari hasil deklarasi Parapat bahwa akan dibentuknya Komite-Komite Kabupaten untuk memperkuat pengorganisasian. Dan Solidaritas Pemuda Jember yang diketuai oleh Rudy Fachrudin sebagai bagian dari sektor Pemuda Pergerakan Sosialis lewat JPPS (Jaringan Pemuda Pergerakan Sosialis). Kemudian Pergerakan Sosialis mengadakan Kongres pertama di Kota Batu bulan Mei 2003 dan terpilihlah Ahmad Taufan Damanik sebagai Ketua. Di awal tahun 2003 dia mendorong, masyarakat Desa Lengkong Mumbulsari untuk membentuk Organisasi rakyat yang kuat dan tangguh dengan nama Persatuan Rakyat Lengkong. Dan pada akhir tahun 2003 tepatnya tanggal 23 Oktober dibentuklah Komite Kabupaten Pergerakan Sosialis terpilihlah dia sebagai Ketua Komite Kabupaten, tugas ini tidaklah ringan karena harus memelihara organisasi-organisasi rakyat yang sudah dibentuk di berbagai wilayah di Jember seperti serikat buruh perkebunan, Persatuan Rakyat Lengkong, Serikat Pemuda Tani, Seikat Rakyat Pedagang Jalanan dan juga melakukan kaderisasi di tingkatan mahasiswa dan masyarakat. Pengurus Komite Kabupaten Pergerakan Sosialis Kabupaten Jember terdiri dari Andy Hendraswanto, Wahyudi Herdianto, Azis Wahyudi, Dian Arifianto. Tetapi kemudian di tahun 2005 seiring dengan ketidakjelasan Pergerakan Sosialis yang mengalami kevakuman organisasi di tingkatan Pengurus Komite Pusat, Pengurus Komite Kabupaten  Jemberpun akhirnya memutuskan vakum sampai waktu yang tidak ditentukan.

Pada waktu tahun 2000 itu pulalah dia bergabung dengan Solidaritas Buruh Organisasi sekawan dari Pergerakan Sosialis. Kemudian Solidaritas Buruh di tahun 2005 berubah menjadi Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB), dengan Sekretaris Eksekutif Juli Nugroho. Dia ikut terlibat menggawangi berdirinya SPTI (Serikat Pekerja Transportasi Independen) bersama Marsikan, Alif Suhanto serta  Hari, dan melakukan pengorganisasian buruh dan komunitas di wilayah Jawa Timur, dan  juga membantu advokasi-advokasi buruh di wilayah Malang, Jember dan Surabaya.

Ditahun 2003 dia diajak salah satu Pengurus sekaligus guru politik dia di Pergerakan Sosialis yaitu Andy Hendraswanto untuk mendirikan sebuah Lembaga Konsumen dengan nama YMKR, sampai tahun 2005 dia terlibat aktif di YMKR. Di tahun 2003 inilah dia mengalami kenyataan pahit ditolak oleh 2 buah bank swasta ternama di Jember ketika melamar pekerjaan alasan penolakannya karena dia mengalami keterbatasan fisik, dia juga ditolak olh sebuah trading company baru dengan alasan yang sama, bahkan dia sempat berdebat dengan jajaran manajemen, kalau tahu dia ditolak kenapa di undang untuk interview? Dan dia bilang jangan lihat dari keterbatasan fisiknya tetapi lihat kemampuannya dia bisa membuktikan bahwa dia mampu dengan pekerjaan yang bagi dia tidaklah berat itu, namun tetap perusahaan-perusahaan itu menolaknya, hal itu tidak mengecilkan semangatnya.  Untuk tetap bisa bertahan hidup di Jember dan sekedar untuk bisa menghidupi Komite Pergerakan Sosialis Jember, dia ikut temannya Icang jualan Koran di emperan Fakultas Ekonomi Universitas Jember, dan menjadi freelancer jual komputer rakitan dan membuka reparasi komputer.

Tahun 2003 setelah di deklarasikannya Persatuan Penyandang Cacat Jember  (Perpenca) dia bergabung, untuk sekedar membantu pengorganisasian dan melakukan advokasi-advokasi hak-hak difabel yang belum terpenuhi di Jember. Dia bersama Perpenca Jember sampai hari ini terus berkampanye tentang hak-hak dan persoalan akesibilitas difabel. Tahun 2005 dia bergabung dengan dCare yang didirikan oleh Wuri Handayani dan aktifis-aktifis Difabel di Surabaya, dia bergabung agar isu-isu Difabel Jember dapat tersalurkan di tingakatan Propinsi Jawa Timur.

Pada awal tahun 2006 Jember diguncang bencana banjir bandang di Kecamatan Panti yang memakan korban ratusan jiwa, jiwanya sebagai sosok makhluk sosial terpanggil untuk menjadi relawan membantu korban bencana banjir, bersama UKM Kurusetra Fakultas Ekonomi membantu di Posko Pengungsian Sukorambi. Pada saat Tsunami aceh tahun 2004 pun sebenarnya dia berkeinginan menjadi relawan, tapi ketika itu tidak tahu dimana harus mendaftar menjadi relawan, akhirnya keinginan itu sirna. Pada waktu gempa jogja 2007 dia juga tidak bisa mejadi relawan karena beberapa puluh jiwa dari korban banjir bandang belum memperoleh tempat tinggal, akhirnya da bersama rekan-rekannya dan kyai-kyai muda NU berusaha untuk mencarikan bantuan rumah.  Diakhir tahun 2006 dia bergabung dengan Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA) di Yogyakarta, selain untuk membantu program masa recovery dari Gempa jogja juga membantu SAPDA untuk pengorganisasian komunitas Difabel, di wilayah Jogjakarta, Klaten dan Magelang.  Dia turut menggawangi berdirinya Persatuan Penyandang Cacat Kulon Progo (PPCKP) ketika ditugasi untuk menjadi Community Organizer (CO) dan harus live in beberapa minggu di Kulon Progo. Dia bersama SAPDA sampai awal 2008, kemudian dia bergabung dengan PSB sampai Bulan Juni 2008 untuk menjadi community organizer untuk program pembangunan ECCD Centre (Early Childhood Care Development) di wilayah Bantul, Yogyakarta sebagai salah satu program recovery pasca gempa.

Bulan Mei 2008 dia bekerja di sebuah International NGO yang berasal dari German yaitu Arbeiter Samariter Bund Deutschland e.V Indonesia (ASB Indonesia) menjadi trainer untuk Program School Emergency Preparedness (Kesiapsiagaan Sekolah dalam Menghadapi Bencana) dan menjadi Disability Liaison Officer, bersama Tim ASB Indonesia dia pernah ke Nias untuk mempersiapkan program DRR for Children with Disability Outside School (Pengurangan Resiko Bencana untuk Anak Berkebutuhan Khusus di luar sekolah), tidak hanya di Nias dia dan tim dari ASB  juga menjalankan program DRR for Children with Disabilities Outside School di Ciamis, dan juga Wilayah Yogya dan Klaten. Dia bekerja di ASB Indonesia sampai akhir desember 2009.

Tahun 2010 dia kembali ke Jawa Timur dan bermaksud untuk akif di dunia advokasi lagi untuk kaum Marginal. Bulan April 2010 dihubungi oleh temannya yang bernama Yuliatiningsih atau dengan nama pena Lia salsabila yang mengajak untuk mendirikan sebuah Taman bacaan di desa Panti, Kecamatan Panti Jember, dia langsung menyanggupi, dan akhirnya berdirilah Taman Bacaan Rumpun Aksara yang diperuntukkan bagi masyarakat Desa Panti yang  kebanyakan Petani dan buruh, tetapi kebanyakan yang hadir justru adalah anak-anak karena di Taman Bacaan Rumpun Aksara selain gratis meminjam buku juga bisa belajar bareng dengan dibantu oleh para pengelola Taman Bacaan Rumpun Aksara. Dia juga ikut terlibat langsung mengajar di Taman Bacaan Rumpun Aksara.

Di akhir tahun 2010 ketika terjadi bencana erupsi Merapi, dia memutuskan untuk menjadi relawan Merapi dan bergabung dengan PSB, pada saat itu dia ditugasi untuk distribusi logistik dan melakukan need assessment untuk pengungsi, disamping itu dia membantu tim dapur umum Prancak yang terdiri dari mahasiswa ISI Yogya membantu di Desa Windu Sabrang yang letaknya 4 Km dari puncak merapi, untuk mendata segala kerugian dan live-in disana, karena masyarakatnya tidak ada yang mau mengungsi.  Ketika menjadi relawan Merapi inilah awal perkenalan dengan seorang wanita yang bernama Miftahul Laili seorang Tenaga Kerja Wanita dan juga Mahasiswa di Hongkong, awal perkenalannya ketika dia melepas lelah setelah seharian mengurusi kebutuhan pengungsi malamnya dia berchating ria menggunakan Yahoo Messenger dan dari situlah dia mulai berhubungan dengan Miftahul Laili, berkat VOIP dia bisa melihat langsung wajah Miftahul Laili, demikian juga Miftahul Laili bisa melihat wajahnya. Merasa ada kecocokan satu sama lain akhirnya hubungan itu berlanjut menjai sepasang kekasih di awal 2011, dia berharap hubungannya dengan Miftahul Laili menjadi sebuah hubungan rumah tangga, harapan itu juga menjadi harapannya, semoga bisa terwujud dengan segera.

Kemudian di bulan Mei 2011 dia melakukan advokasi pada pengurus-pengurus serikat  buruh di Lumajang yang dikriminalisasikan oleh Perusahaan perkebunan, bersama LBH Surabaya pos Malang dia mengawal proses hukum dan menjadi tim kuasa hukum dari salah seorang pengurus serikat yang dikriminalisasi oleh perusahaan perkebunan tersebut. Kesehariannya sekarang menjadi bagian dari advokat di LBH Malang. Hari ini dia sudah menjadi Advokat PERADI. Inilah kisahku mana kisahmu…..

 

4 responses to “TENTANG AKU

  1. nurul

    January 16, 2009 at 11:58 am

    nice blog.

     
  2. Toga Tambunan

    June 12, 2014 at 6:56 am

    Semamngat………… Asset besar dapat dimiliki setiap insan!

     
    • whawha

      June 12, 2014 at 10:15 am

      Iya mas Toga, makasih sudah mampir

       
  3. andhi mahardika

    July 31, 2014 at 12:06 pm

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bung, Mohon Maaf lahir dan batin. Semoga dirimu selalu memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Semoga apa yang kau impikan dapat terbukti dan terwujud di kemudian hari. Selamat bekerja dan berjuang..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: